BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menurut Santrock (2003) bahwa remaja (adolescene)
diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa
dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial emosional. Sedangkan menurut Rumini
dan Sundari (2004) remaja adalah peralihan dari masa anak-anak dengan masa
dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa
dewasa.
Masa remaja adalah masa datangnya pubertas 11-14 tahun sampai usia sekitar 18 tahun yang merupakan masa
transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun
orang tuanya. Masa perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada
periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu
dapat berhasil di tuntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan
tugas-tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidak bahagiaan pada diri
individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan
kesulitan-kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas berikutnya (Monks, 2003).
Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan
para orang tua dan pendidik tentang berbagai tuntutan psikologi ini, sehingga
perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju perkembangan
mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang tidak
sejalan dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin
mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Dengan demikian di harapkan
para orang tua dan pendidik dapat memberikan motivasi yang tepat untuk mendorongmendorongremaja
menuju pada kepenuhan dirinya
(Stice dan Whitenton, 2002).
(Stice dan Whitenton, 2002).
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari remaja?
2.
Apa saja ciri-ciri pada remaja?
3.
Apa saja tahap-tahap pada perkembangan remaja?
4.
Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan remaja?
5.
Apa saja perubahan fisik dan pisikologis pada masa remaja?
6. Apa saja tugas – tugas perkembangan
pada masa remaja?
7. Apa saja permasalahan pada masa remaja?
8. Bagaimana cara mengatasi masalah pada
remaja?
9. Apa dinamika permasalahan
remaja ?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari
remaja.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri pada remaja.
3. Untuk mengetahui tahap-tahap pada perkembangan remaja.
4. Untuk mengetahui Faktor – faktor yang
mempengaruhi perkembangan remaja.
5. Untuk mengetahui perubahan fisik dan pisikologis pada masa
remaja.
6. Untuk mengetahui tugas – tugas
perkembangan pada masa remaja.
7. Untuk mengetahui permasalahan pada masa
remaja.
8. Untuk mengetahui cara mengatasi masalah
pada remaja.
9. Untuk mengetahui dinamika
permasalahan remaja.
BAB
II
TINJAUAN TEORI
A.
Pengertian Remaja
Istilah remaja berasal dari kata latin yaitu “adolescere”(kata
bendanya,adolescentia yang berarti Remaja)yang berarti tumbuh/tumbuh menjadi dewasa.
Istilah remaja,seperti yang dipergunakan saat ini,mempunyai arti yang
sangat luas mencakup kematangan mental,emosional,sosial dan fisik pandangan ini
di ungkapkan oleh Tiaget.
1. Menurut
Rumini dan Sundari (2004), remaja adalah
peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua
aspek atau fungsi
untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun
sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi
pria.
2. Menurut Santrock (2003), masa remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan
masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
3. Menurut Pardede
(2002), masa remaja merupakan suatu fase perkembangan yang
dinamis dalam kehidupan seorang individu.
B. Ciri-ciri
Remaja
Ciri-ciri Remaja adalah sebagai berikut:
1. Pemekaran diri sendiri (extension of the self)
Ditandai dengan kemampuan seorang untuk menganggap
orang atau hal lain sebagai bagian dari diri sendiri juga. Perasaan egoisme (mementingkan diri
sendiri) berkurang sebaliknya tumbuh perasaan ikut memiliki, salah satu tanda yang khas adalah
tumbuhnya kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya. Kemampuan untuk
bertenggang rasa dengan orang yang dicintainya untuk ikut merasakan penderitaan yang
dialami oleh orang yang dicintainya, ciri lain adalah berkembangnya ego ideal
berupa cita-cita, idola dan sebagainya yang menggambarkan wujud ego (diri
sendiri) di masa depan (Hurlock, 2002).
2. Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara obyektif (self
objectivication)
Ditandai dengan kemampuan
untuk mempunyai wawasan tentang diri sendiri (self insight) dan kemampuan untuk menangkap
humor (sense of humor) termasuk yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran.
Dia tidak marah jika dikritik pada saaat-saat yang yang diperlukan ia dapat melepaskan diri dari
dirinya sendiri dan meninjau dirinya sendiri sebagai orang luar (Hurlock, 2002).
3. Memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life)
Hal itu dapat dilakukan tanpa perlu merumuskannnya dan mengucapkankannya dalam
kata-kata. Ia tahu kedudukannnya dalam masyarakat ia paham bagaimana
seharusnya ia bertingkah laku orang seperti ini tidak lagi mudah terpengaruh dan pendapatnya serta
sikap sikapnya cukup jelas dan tegas (Chaplin,
2004).
C. Tahap – tahap Perkembangan Remaja
Tahap-tahap perkembangan remaja menurut Stevenson (2002) adalah
sebagai berikut:
1. Periode
masa
pra pubertas usia 12-18 tahun
Masa pra pubertas merupakan masa peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Ciri-cirinya:
a. Anak tidak suka diperlakukan
seperti anak kecil lagi
b. Anak mulai bersikap kritis
2. Masa pubertas usia 14-16 tahun merupakan masa remaja awal. Ciri-cirinya:
a. Mulai cemas dan bingung tentang
perubahan fisiknya
b. Memperhatikan penampilan
c.
Sikapnya tidak menentu/plin-plan
d. Suka berkelompok dengan teman sebaya
dan senasib
3.
Masa akhir pubertas usia 17-18 tahun merupakan peralihan dari masa
pubertas ke masa adolesen.
Ciri-cirinya:
a. Pertumbuhan fisik sudah mulai
matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
b. Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja
putri lebih awal dari remaja pria.
4.
Periode remaja adolesen usia 19-21 tahun merupakan masa akhir Remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
a. Perhatiannya tertutup pada
hal-hal realistis
b. Mulai menyadari akan realitas
c. Sikapnya mulai jelas tentang
hidup
d. Mulai nampak bakat dan minatnya
D.
Aspek-aspek Perkembangan Remaja
1. Perkembangan fisik
Menurut Papalia dan Olds (2001), yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah
perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan
motorik. Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat
tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi
reproduksi. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna
meningkatkan kemampuan kognitif.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan
mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget
mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu
interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang
semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal
(Papalia & Olds, 2001).
3. Perkembangan
kepribadian dan sosial
Menurut Papalia & Olds (2001) yang dimaksud
dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan
dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik sedangkan perkembangan sosial
berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kepribadian
yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud
dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan
peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
E.
Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah sebagai
berikut:
1. Faktor Pribadi
Setiap anak berkepribadian khusus. Keadaan khusus pada anak
bisa menjadi sumber munculnya berbagai perilaku menyimpang. Keadaan khusus ini
adalah keadaan konstitusi, potensi, bakat, atau sifat dasar pada anak yang
kemudian melalui proses perkembangan, kematangan, atau perangsangan dari
lingkungan, menjadi aktual, muncul, atau berfungsi (Lester, 2004).
Sehubungan dengan masalah pelajaran ini, perasaan-perasaan tertekan dan
beban yang tidak sanggup dihadapi juga dapat timbul karena berbagai hal yang lain seperti berikut ini:
a. Tuntutan dari pihak orang tua terhadap prestasi anak yang sebenarnya
melebihi kemampuan dasar yang dimiliki anak.
b. Tuntutan terhadap anak agar ia bisa memperlihatkan prestasi-prestasi
seperti yang diharapkan orang tua.
c. Tekanan dari orang tua agar anak mengikuti berbagai kegiatan, baik yang
berhubungan dengan pelajaran-pelajaran sekolah maupun kegiatan-kegiatan lain
yang berhubungan dengan pengembangan bakat dan minat.
d. Kekecewaan pada anak karena tidak berhasil memasuki sekolah atau jurusan
yang dikehendaki dan yang tidak dinetralisasikan dengan baik oleh orang tua.
Kekecewaan yang berlanjut pada penilaian bahwa harga dirinya tidak perlu
dipertahankan karena orang tua tidak mencintainya lagi.
Dari uraian di atas, dijelaskan bahwa masalah yang
berkaitan dengan masalah sekolah, masalah belajar, prestasi, dan potensi
(bakat) bisa menjadi sumber timbulnya berbagai tekanan dan frustrasi. Hal tersebut dapat mengakibatkan
reaksi-reaksi perilaku nakal atau penyalahgunaan obat terlarang (Libert, 2003).
2. Faktor Keluarga
Keluarga adalah unit sosial yang paling kecil dalam masyarakat. Lingkungan keluarga
berperan besar karena merekalah yang langsung atau tidak langsung terus-menerus
berhubungan dengan anak, memberikan perangsangan (stimulasi) melalui berbagai
corak komunikasi antara orang tua dengan anak (Prawirosudirjo, 2003).
3. Lingkungan Sosial dan Dinamika
Perubahannya
Lingkungan
sosial dengan berbagai ciri khusus yang menyertainya memegang peranan besar
terhadap munculnya corak dan gambaran kepribadian pada anak. Kesenjangan antara norma,
ukuran, patokan dalam keluarga dengan lingkungannya perlu diperkecil agar tidak
timbul keadaan timpang atau serba tidak menentu, suatu kondisi yang memudahkan
munculnya perilaku tanpa kendali, yakni penyimpangan dari berbagai aturan yang
ada. (Ellis, 2001).
Lingkungan pergaulan anak adalah sesuatu yang harus dimasuki karena di
lingkungan tersebut seorang anak bisa terpengaruh ciri kepribadiannya, tentunya
diharapkan terpengaruh oleh hal-hal yang baik. Di samping itu, lingkungan
pergaulan adalah sesuatu kebutuhan dalam pengembangan diri untuk hidup
bermasyarakat. Karena itu, lingkungan sosial sewajarnya menjadi perhatian kita semua,
agar bisa menjadi lingkungan yang baik, yang bisa meredam dorongan-dorongan
negatif atau patologis pada anak maupun remaja (Santrock, 2002).
F.
Perubahan Fisik dan Psikologis pada Remaja
Perubahan fisik dan psikologis
pada remaja menurut Prawirosudirjo (2003) sebagai berikut:
1. Perubahan
Fisik
a. Perubahan fisik pada wanita remaja antara lain:
1) Pertumbuhan fisik lebih menonjol,
tinggi dan besar badannya
2) Kulit menjadi lebih halus
3) Buah dada (payudara) membesar
4) Timbunan lemak pada bagian badan
tertentu lebih banyak: pinggul, pantat, sekitar dada, sekitar pinggang tampak kecil atau
ramping
5) Suara meninggi satu oktaf
6) Tumbuh rambut pada bagian tubuh
tertentu, sekitar kemaluan dan ketiak
b. Perubahan
fisik pada laki-laki Remaja
1) Testis membesar
2) Tumbuh
rambut pada bagian tertentu, kumis, janggut, sekitar dada, ketiak dan sekitar
kemaluan.
3) Suara
menurun satu oktaf lebih rendah nadanya
4) Mimpi basah
2. Perubahan psikologis pada remaja
a. Perubahan psikologi pada wanita remaja
1) Pasif dan menerima
2) Cenderung menerima perlindungan
3) Minatnya tertuju pada hal yang sifatnya
emosional dan kongkrit
4) Berusaha mengikuti dan mengenang orang
lain
5) Sifatnya subyektif
b. Perubahan
psikologi pada laki-laki remaja
1) Aktif
memberi
2) Cenderung
memberikan perlindungan
3) Minatnya
tertuju pada hal-hal yang bersifat interaktual abstrak
4) Berusaha
memutuskan sendiri dan ikut bicara
5) Sifatnya
objektik
G. Tugas-tugas Perkembangan pada Masa Remaja
Menurut Hurlock (Dalam Ali, 2002),
tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu:
1.
Mampu menerima keadaan fisiknya
2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa
3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis
4. Mencapai kemandirian emosional
5. Mencapai kemandirian ekonomi
6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan
untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat
7. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua
8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk
memasuki dunia dewasa
9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan
10. Memahami dan
mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga
H. Permasalahan pada Masa Remaja
Permasalahan pada masa remaja menurut Stevenson (2002)
adalah sebagai berikut:
Kebanyakan anak yang dalam
masa remaja pasti menginginkan masa remaja mereka ingin sempurna dan di
perhatikan oleh keluarga terutama pada ayah dan ibu. Tapi bagi sebagian mereka yang
masa remajanya ingin sempurna harus meninggalkan sedih di hati karena harus
menghabiskan masa remaja mereka di jalanan bergabung dengan mereka yang masa
remajanya kurang beruntung, itu semua terjadi karena pertengkaran yang terjadi
pada orang tua dan melibatkan anak – anak mereka yang tidak seharusnya
terlibat, karena kalau orang tua melibatkan masalah mereka kepada anaknya bisa
membuat anak tersebut berpikir yang harusnya belum dia pikirkan dan bisa
membuat dia menjadi depresi.
Dalam masa remaja ini kita
bisa mengenal yang namanya cinta biarpun yang di bilang itu cinta monyet, tapi gara – gara cinta bisa
merusak masa remaja kita apa lagi kalau kita semua sudah mengenal free sex (seks bebas). Dalam kalangan
remaja tidak mungkin tidak tahu yang namanya cinta, tapi inilah masalah yang
sering terjadi di saat kita hanyut dengan cinta. Kita bisa saja melakukan apa
saja untuk sampai – sampai kita bisa melupakan keluarga kita sendiri.
Lingkungan sangat berperan penting dalam masa remaja karena lingkungan sanga mempengaruhi masa pertumbuhan remaja. Jika lingkungan yang ditempati baik maka berdampak positif terhadap remaja itu dan sebaliknya, Jika lingkungan yang di tempati itu buruk, maka berdampak negatif bagi perkembangan remaja. Maka dari itu kita harus bisa menentukan mana yang baik dan yang buruk.
|
I. I . Cara Mengatasi Masalah Remaja
Cara mengatasi masalah remaja menurut Stevenson (2002) adalah sebagai berikut:
1.
Masalah Keluarga
Dalam permasalahan remaja orang tua sangat berperan penting terhadap perkembangan psikologi seorang anak, sehingga orang tua harus
lebih memperhatikan perilaku seorang anak. Jadi, sebagai orang tua kita harus
lebih terbuka terhadap masalah-masalah yang ada pada keluarga, agar tercipta
kenyamanan dan keharmonisan dalam keluarga.
2.
Masalah Percintaan
Dalam masalah percintaan remaja harus mengetahui
batasan-batasan dalam berpacaran, agar tidak
terjerumus dalam pergaulan bebas (free seks). Oleh sebab itu remaja di harapkan lebih mendekatkan diri
kepada-Nya.
3. 3.
Masalah
Lingkungan
Dalam masalah lingkungan, remaja harus bisa
membatasi pergaulan dan bisa memilih mana pergaulan yang positif dan negatif.
Karena, lingkungan juga berperan penting terhadap perubahan perkembangan
remaja.
DINAMIKA
PERMASALAHAN REMAJA
A. REMAJA
DAN TUGAS PERKEMBANGAN
Masa
remaja merupakan masa “belajar” untuk tumbuh dan berkembang dari anak menjadi
dewasa. Masa belajar ini disertai dengan tugas-tugas, yang dalam istilah
psikologi dikenal dengan istilah tugas perkembangan. Sama halnya dengan di
sekolah, tugas perkembangan ini juga harus diselesaikan oleh seorang remaja
dengan baik dan tepat waktu untuk dapat naik ke kelas berikutnya. Istilah
tugas perkembangan digunakan untuk menggambarkan harapan masyarakat terhadap
suatu individu untuk melaksanakan tugas tertentu pada masa usia tertentu
sehingga individu itu dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat.
Setiap
fase perkembangan, yaitu sejak seorang bayi lahir, tumbuh menjadi dewasa
sampai akhirnya mati, mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi.
Misalnya, balita berusia dua tahun diharapkan sudah dapat berbicara dan
berkomunikasi secara sederhana dengan orang-orang di sekelilingnya. Hal yang
sama juga berlaku bagi remaja. Tugas perkembangan yang harus diselesaikan
oleh remaja tidak sedikit.
Menurut
Havighurst, tugas-tugas perkembangan seorang remaja adalah sebagai berikut :
Tugas-tugas
perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan
perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas
perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas
perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas
perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk
menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan
pada tahapan yang lebih lanjut.
B. MASALAH REMAJA DI SEKOLAH
Sudah
cukup lama dirasakan adanya ketidakseimbangan antara perkembangan intelektual
dan emosional remaja di sekolah menegah (SLTP/ SLTA). Kemampuan intelektual
mereka telah dirangsang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan
prasarana yang disiapkan di rumah dan di sekolah. Mereka telah dibanjiri
berbagai informasi, pengertian-pengertian, serta konsep-konsep pengetahuan
melalui media massa (televisi, video, radio, dan film) yang semuanya tidak
bisa dipisahkan dari kehidupan para remaja sekarang.
Dari
segi fisik, para remaja sekarang juga cukup terpelihara dengan baik sehingga
mempunyai ukuran tubuh yang sudah tampak dewasa, tetapi mempuyai emosi yang
masih seperti anak kecil. Terhadap kondisi remaja yang demikian, banyak orang
tua yang tidak berdaya berhadapan dengan masalah membesarkan dan mendewasakan
anak-anak di dalam masyarakat yang berkembang begitu cepat, yang berbeda
secara radikal dengan dunia di masa remaja mereka dulu.
Masalah
Remaja Di Sekolah Remaja yang masih sekolah di SLTP/ SLTA selalu mendapat
banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku.
Berikut ada lima daftar masalah yang selalu dihadapi para remaja di sekolah.
Perilaku
Bermasalah (problem behavior). Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah
dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya
sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan
menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan
guru, dan dengan masyarakat. Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai
aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori perilaku
bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman.
Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang
remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri.
Perilaku
menyimpang (behaviour disorder). Perilaku menyimpang pada remaja merupakan
perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous)
dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua
remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia
tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri.
Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak
terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder
lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.
Penyesuaian
diri yang salah (behaviour maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai
yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas
dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya.
Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh
penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA).
Perilaku
tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder). Kecenderungan pada sebagian
remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud
dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan
sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena
sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada
anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada
anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau
hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang
remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan
perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti
melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain
itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku
oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja
yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
Attention
Deficit Hyperactivity disorder, yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam
perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya
tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang
hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga
tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak
dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja
yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu,
anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar
serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.
C. NARKOBA DAN PERILAKU SEKS BEBAS
1.
Penyalahgunaan narkoba
Hambatan
dalam proses sosialisasi merupakan manifestasi kelemahan fungsi kepribadian
yang menyebabkan labilitas emosional sehingga tingkat toleransi stres pun
relatif rendah. Ia mudah menyerah, kurang memiliki daya juang, dan rendah
ketekunannya dalam belajar mengatasi masalah. Remaja tipe ini rentan terhadap
pengaruh penyalahgunaan narkoba.
Beberapa
penyebab lain adalah dinamika relasi khas antara faktor psikis dan fisik yang
kurang menguntungkan remaja. Misalnya, badan terlampau gemuk atau kurus,
sikap tertutup, teman terbatas, prestasi belajar antara sedang ke kurang, dan
kurang berani menghadapi tantangan. Anak tipe ini biasanya kurang percaya
diri sehingga rawan pemerasan/pemalakan. Awalnya dipaksa menyerahkan uang
jajan sampai akhirnya dipaksa mencuri di rumah. Hasil pemerasan langsung
dibelikan narkoba dan sering terjadi anak dipaksa mencoba minuman keras atau
narkoba yang dibeli dari hasil rampasan/pemerasan tadi.
Beberapa
faktor internal mirip hal di atas, tetapi keanggotaan terhadap geng diperoleh
dengan pendekatan lebih luwes. Misalnya, anak diajak naik motor, diajari naik
motor atau main gitar, untuk kemudian dijadikan obyek pemerasan. Karena
khawatir kehilangan teman bermain, segala yang diminta pimpinan geng akan ia
penuhi, termasuk merokok dan kemudian menggunakan narkoba.
Remaja
yang sejak awal pubertas menunjukkan kurang suka belajar, sering bolos, dan
menyukai permainan seperti pachinko atau permainan lain yang mengandung unsur
perjudian biasanya mengalami ketidakpuasan emosional di rumah dan tidak mampu
mengatasi permasalahan remaja dan gejolak jiwa remajanya. Ia frustrasi dan
gelisah.
Keadaan
ini sering dilatari sikap keluarga yang kurang sempat memerhatikan anak
remajanya dan kurang memberi dukungan kasih serta perhatian bagi anak remaja
untuk menyelesaikan masalah remaja tersebut. Keadaan frustrasi ini membuka
peluang penggunaan narkoba sebagai cara remaja menyelesaikan masalahnya. Bila
akhirnya keluarga mengetahui, reaksi lanjut pihak keluarga biasanya lebih
tidak menguntungkan. Artinya, remaja semakin tenggelam dalam penggunaan
narkoba sebagai jalan keluar masalahnya.
2.
Perilaku Seks Bebas
Menurut
beberapa penelitian, cukup banyak faktor penyebab remaja melakukan perilaku
seks bebas. Salah satu di antaranya adalah akibat atau pengaruh mengonsumsi
berbagai tontonan. Apa yang ABG tonton, berkorelasi secara positif dan
signifikan dalam membentuk perilaku mereka, terutama tayangan film dan
sinetron, baik film yang ditonton di layar kaca maupun film yang ditonton di
layar lebar.
Hal
kedua yang menjadi penyebab seks bebas di kalangan remaja adalah faktor
lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan. Lingkungan
keluarga yang dimaksud adalah cukup tidaknya pendidikan agama yang diberikan
orangtua terhadap anaknya. Cukup tidaknya kasih sayang dan perhatian yang
diperoleh sang anak dari keluarganya. Cukup tidaknya keteladanan yang
diterima sang anak dari orangtuanya, dan lain sebagainya yang menjadi hak
anak dari orangtuanya. Jika tidak, maka anak akan mencari tempat pelarian di
jalan-jalan serta di tempat-tempat yang tidak mendidik mereka. Anak akan dibesarkan
di lingkungan yang tidak sehat bagi pertumbuhan jiwanya. Anak akan tumbuh di
lingkungan pergaulan bebas.
D. PENDIDIKAN SEKSUAL PADA REMAJA
Pemberian
informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja
berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan
seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang
cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent
psychology, 1980). Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi
perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi
yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak
mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali
remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi
jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.
Karena
meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam
potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi
mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan,
pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari
orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai
sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah
atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks,
media massa atau internet.
1.
Karakteristik Seksual Remaja
Pengertian
seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau
hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara
laki-laki dengan perempuan. Karakter seksual masing-masing jenis kelamin
memiliki spesifikasi yang berbeda hal ini seperti yang pendapat berikut ini :
Sexual characteristics are divided into two types. Primary sexual
characteristics are directly related to reproduction and include the sex
organs (genitalia). Secondary sexual characteristics are attributes other
than the sex organs that generally distinguish one sex from the other but are
not essential to reproduction, such as the larger breasts characteristic of
women and the facial hair and deeper voices characteristic of men (Microsoft
Encarta Encyclopedia 2002)
Pendapat
tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1991), seorang ahli psikologi
perkembangan, yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting
pada laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock, pada remaja putra : tumbuh
rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar
dan lain,lain. Sedangkan pada remaja putri : pinggul melebar, payudara mulai
tumbuh, tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid, dan lain-lain.
Seiring
dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang
sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan
seksualnya. Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah
dorongan seksual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang
antara dua insan, sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan
keturunan.
2.
Perilaku Seksual
Perilaku
seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik
dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat
beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan,
berbuat dan senggama. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun
lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku
ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak
fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian
perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki
dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah,
dan agresi.
Sementara
akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah
ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah,
misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari
masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang
lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin
dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Disamping itu tingkat putus sekolah
remaja hamil juga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan
sekolah menerima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Masalah
ekonomi juga akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan
kompleks.
Berbagai
perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan
seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :
Adapun
faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual
pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja,1994) adalah
sebagai berikut :
3.
Pendidikan Seksual
Menurut
Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual
adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan
benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran,
tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan
dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya
berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang,
apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan
yang berlaku di masyarakat.
Pendidikan
seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong
muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan
seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan
segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang
wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini
seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang
perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan
bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak
( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini
pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah,
mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi
sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di
dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi
maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang
tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak
yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka
sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.
4.
Tujuan Pendidikan Seksual
Pendidikan
seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga
menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang
benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur
dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral
juga.
Menurut
Kartono Mohamad pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina
keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab (dalam Diskusi Panel
Islam Dan Pendidikan Seks Bagi Remaja, 1991). Beberapa ahli mengatakan
pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika,
pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga
maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan
seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba
hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu
tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan
hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang.
Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan
mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan
norma agama, sosial dan kesusilaan (Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal
dunia remaja, 1987)
Penjabaran
tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :
Jadi
tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang
sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup
dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal
ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan
dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan
dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya
anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya
menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada
waktu yang tertentu saja.
5.
Beberapa Kiat
Para
ahli berpendapat bahwa pendidik yang terbaik adalah orang tua dari anak itu
sendiri. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Dalam
membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan
membutuhkan suasana yang akrab, terbuka dari hati ke hati antara orang tua
dan anak. Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya
atau bapak dengan anak laki-lakinya, sekalipun tidak ditutup kemungkinan
dapat terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya atau bapak
dengan anak perempuannya. Kemudian usahakan jangan sampai muncul keluhan
seperti tidak tahu harus mulai dari mana, kekakuan, kebingungan dan kehabisan
bahan pembicaraan.
Dalam
memberikan pendidikan seks pada anak jangan ditunggu sampai anak bertanya
mengenai seks. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana, sesuai
dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja
dimana proses kematangan baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan
berkembang kearah kedewasaan.
Beberapa
hal penting dalam memberikan pendidikan seksual, seperti yang diuraikan oleh
Singgih D. Gunarsa (1995) berikut ini, mungkin patut anda perhatikan:
PENUTUP
1.
kesimpulan
Masa
remaja adalah masa transisi dari masa kanak kanak menuju masa dewasa, secara
umum biasanya terjadi sekitar usia 13 – 19 dikarenakan masa ini adalah masa
peralihan, sehingga terjadi beberapa masalah yang menyertainya.
Masa
remaja ditandai dengan adanya banyak perubahan pada anak, dari mulai
perubahan fisik yang menunjukkan kematangan organ reproduksi serta optimalnya
fungsional organ organ tertentu, perubahan kognitif yang menunjukkan kemajuan
cara berpikir remaja serta perubahan sosio-emosi yang berpengaruh besar
terhadap kondisi kejiwaan remaja tersebut. Ada banyak faktor yang harus
diperhatiak selama pertumbuhan remaja, diantaranya : hubungan dengan orang
tua, hubungan dengan teman sebaya, kondisi lingkungan serta pengetahuan
kognitif anak.
Kenakalan
remaja merupakan hal yang akan selalu mengiringi perkembangan remaja, karena
nya orang dewasa harus memahami kondisi remaja sehingga bisa menangani
masalah kenakalan tersebut, kebebasan dan pengawasan yang seimbang merupakn
kunci agar orang tua tidak kehilangan kendali atas anaknya yang tengah
beranjak dewasa.
2. Saran
Perubahan-
perubahan yang terjadi pada masa remaja menimbulkan berbagai macam konflik
batin maupun psikis , jadi orang tua harus benar-benar memahami konsekuensi
perubahan pada masa remaja anak nya.
DAFTAR PUSTAKA
Crow,
2004, Educational Psychology,
American Book Company, New York.
Hurlock,
2002, Developmental Psychology,
McGraw Hill Book Company, Inc., New York.
Liebert.,
2003, Development Psychology,
Prentice Hall, Inc., New York.
Piaget,
2001, The Construction of Reality in the
Child, Translated by Margaret Cook, Inc., New York.
Prawirosudirjo,
2003, Menginjak Masa Remaja,
Bhratara Karya Aksara, Jakarta.
Chaplin J.P, 2004, Dictionary of
Psychologi, Dell Publishing Co, Inc., New York.
Ellis,
2001, Studies in the Psychologie of Sex,
Rancom House, New York.
Payne,
2002, Conception of Feminity, Brit.
J.M. Psychologie, New York.
Stevenson, 2002, Psychologie des Jungmadchens,
Quella dan Meyer, Heidelburg.
Hurlock,
Elizabeth B. 1980. Psikologi
Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga,
Jakarta
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar